
"Greta Thunberg menjadi Person of the Year majalah TIME. Umurnya 16 tahun, dia punya pemikiran lalu diturunkan jadi satu rangkaian kata-kata, protes," ujar Gubernur DKI Jakarta itu dalam acara Milenial Fest 2019 di Balai Sarbini, Jakarta, Sabtu (14/12).
Thunberg sendiri memang dikenal vokal mendesak pengambilan langkah menghadapi krisis iklim global. Dia memulai aksi pada Agustus 2018 dengan bolos sekolah dan berkemah di depan gedung parlemen Swedia, meminta pemerintah setempat mengambil tindakan atas bahaya perubahan iklim. Dari sana, kampanye Thunberg makin membesar menjadi pergerakan global.
Padahal, lanjut Anies, seorang pemimpin harus menggunakan kata-kata untuk menyampaikan gagasan sehingga orang-orang akan sukarela mengikuti gagasan tersebut.
"Kalau punya gagasan, itu harus diterjemahkan dalam bentuk narasi. Bisa lisan, tulisan, audio visual. Anda harus punya narasi kemudian diterjemahkan jadi aksi," ucap Anies.
"Jangan pernah remehkan kata-kata. Tanpa narasi you go nowhere," lanjutnya.
Mantan Mendikbud di era pemerintahan Joko Widodo itu juga menyebut Thunberg sebagai contoh nyata sosok yang menggerakan dunia melalui kata-kata.
Saat dikonfirmasi lebih lanjut, orang nomor satu di DKI itu membantah pujiannya pada Thunberg merupakan sindiran bagi pihak yang kerap menyebutnya hanya menjual kata-kata.
"Enggak, enggak. Ini justru contoh bahwa narasi punya kekuatan besar. Dan bagaimana narasi itu bisa menjangkau begitu banyak orang," tuturnya.
Anies sebelumnya banyak dikritik sejumlah pihak karena terlalu mengumbar kata-kata.
Dalam satu tahun masa pemerintahan Anies yang lalu, ia pernah diibaratkan kaya akan kata-kata, tetapi minim perbuatan. Anies juga disebut tak memberikan kinerja nyata dalam setahun pemerintahannya. (pris/vws)
from CNN Indonesia https://ift.tt/2EihHFy
via IFTTT
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Puji Greta Thunberg, Anies Minta Jangan Remehkan Kata-kata"
Post a Comment